Friday, 15 December 2017

Where's Woff - Chapter 4

Waktu di jam tanganku sudah menunjukan jam 3, yosh.. sekarang saatnya ngumpul sama kelompok idaman, pikirku. Langsung saja dengan semangat ku ajak Jhony untuk kumpul, padahal biasanya kami berdua yang paling males untuk disuruh kumpul.  “jhon ayo jhon buruan makan nya, mau kumpul nih kita,” kataku maksa, “tumben lu yee sekarang giat kerja kelompok, biasanya mah paling lama kalo disuruh kumpul,” jhony membalas, “iyaa kalo sekarang ada pemandangannya jhon, yang kemarin kan cowo semua,” “ah.. lu juga biasanya suka yang batangan rish,” kata jhony meledek, “kambing lu jhon, gua ga kaya eluu,” “yaudah ayo dah cuss rish,” “kuyy jhon.”. Kelompok kami janjian kumpul di taman universitas, sampai di taman tenyata mereka disana baru sebagian. “yang lain mana rish, baru 3 orang itu,” jhony kebingungan, “paling masih pada di kantin jhon, kita sapa yang udah ada dulu aja,” aku dan jhony lalu berjalan dan bergabung dengan mereka yang masih duduk-duduk di rumput. “woii guys, sepi aja nih” sapa ku. “iya nih rish, yang lain masih pada makan. Sini duduk aja dulu lu berdua, paling sebentar lagi,” saut Dimas. “yoii rish bener tuh kata didim, disini aja dulu tunggu yang lain,” Nisa ikut menyapa ku. Aku dan Jhony pun ikut duduk-duduk di taman sambil bercanda gurau menunggu yang lain.

20 menit kemudian semua sudah berkumpul ditaman, lalu kami mulai menyusun rencana untuk kerja kelompok dimana. “Jadi gimana nih, kita mau kerkel dimana nanti?” Sasha membuka obrolan kelompok, “ya gua ikut aja enaknya dimana,”saut Dimas “yaa sama gua juga, asal jangan di kosan gua yak,” saut Ervin dari belakang. “emang kenapa vin? Kan kosan lu muat buat rame-rame vin,” kata Nisa, “iyasih Nis, tapi ibu kos nya yang ngga bisa di kondisiin,” balas Ervin. “yaelahh vin….” Kata kami hampir serentak. “gimana kalo di kosan lu ziv? Kan enak tuh tempatnya,” kata Sasha, Ziva langsung jawab “eh, jangan-jangan, di kosan gua cowo gaboleh masuk. Emang mau yang cowo duduk dijalan?” “yaelahh Ziv…” kata anak cowo dan yang ini serentak. “gimana kalo di kosan Parrish aja, pada belom tau kan selama ini Parrish kalo semedi dimana? gimana? gimana!?” Jhony pun angkat suara. Belom sempet bales ajakannya Jhony, Aira juga ikut setuju “Setujuu.. kayanya seru juga di kosan Parrish”. Wah kalo udah kaya gini sih gua susah nolaknya, pikirku. “yaudah deh dengan berat hati ‘tapi boong hehe’ di kosan gua aja, tapi ada syarat nya kawan,”kataku dengan nada licik. “apatuh rish?” mereka bingung, “pada bawa cemilan yak, soalnya cemilan di kosan gue tinggal dikit hehe” kataku sambil senyum. “gampang itu mah rish” “tenang aja rish gua beli gorengan yang banyak” “yee bisa aja lu rish hahaha” kata mereka sambil tertawa, saat itu Aira juga ikut tertawa sambil melihatku. Duh doi liatin gua uhuy, kataku dalam hati sambil kegirangan. “yaudah sisanya kita lanjutin di kosan Parrish aja nanti malem, ShareLocation di grup ya rish,” Kata Ziva, “Woke deh Ziv, gampang itu mah,”balas ku. “Oiya jhon, ntar malem gua bareng lu yaa”Dimas ngajak berangkat bareng jhony. “Sip Sip Dims, telpon ajaa” saut Jhony. Setelah selesai sapa menyapa, kami pun bubar untuk kembali ke kosan masing-masing. Aku? Aku tetap bareng Jhony pulangnya karna memang searah, sebenarnya aku juga searah dengan arah pulangnya Aira, tapi mungkin belom saat nya kami pulang bareng atau berangkat bareng, Someday, maybe?.


Continue at Chapter 5 --> Click Me!
Share:

Where's Woff - Chapter 7

                Aku pun langsung membuka pintu kayu itu, dan yang aku takutkan ternyata benar-benar terjadi. Yang aku lihat adalah pemandangan desa kuno dengan api unggun besar berada di tengah desa tersebut. ‘ini seperti de ja vu’ pikirku. Aku pun mencoba berkeliling desa tersebut dengan maksud mencari tahu apa yang terjadi, atau mungkin menemukan teman-teman ku. Aku mencoba jalan ke arah api unggun besar itu, banyak warga yang melontarkan senyuman kepada ku. Mulai dari pria tua yang sedang berkebun di samping rumahnya, hingga anak-anak kecil yang bermain dengan riang dan tawa nya. ‘mungkin aku harus mencari pria tua yang waktu itu, kalau tidak salah namanya Tyo’. Tanpa kusadari aku sudah sampai di pinggiran desa, ternyata terdapat sungai disini dan pandanganku tertuju kepada jembatan kayu tua yang membatasi antara desa dan hutan gelap. Disana terdapat gadis sepantaranku yang sepertinya sedang termenung. Aku pun menghampirinya ‘siapa tau dia bisa membantuku’pikirku.
                “Halo. maaf menggangggu”, ternyata dia terkejut dengan sapaan ku. “eh.. iya, ada apa ya?”. “aku orang baru disini, apakah kamu bisa menceritakan apa yang sedang terjadi di desa ini, dan.. aku juga mencari teman-teman ku. Apakah kamu melihat orang dengan baju seperti ku lewat sini?” aku coba menjelaskan kalau aku memang tersesat disini. Dia hanya tampak kebingungan dan tertawa dengan apa yang aku tanyakan. “hmm… kamu kenapa rish? Kok malah kaya orang nyasar? Ada ada aja hahaha,”. ‘loh.. dia kok tau nama gue’, “emang nya situ siapa ya? Aku lupa hehe…” Akhirnya aku pura-pura pernah kenal dia. Gadis itu malah bingung melihat ku, lalu kemudian tersenyum kecil. “yaudah kita kenalan aja lagi kaya dulu.” Gadis itu mengulurkan tangannya, aku pun menyambut tangan itu dengan tangan ku lalu kami pun saling bertatap mata. “Kenalin, nama aku Sava. Anak dari Pak Tyo, rumahnya? Tuh.. rumah aku yang deket sungai disitu.” Sava menunjuk rumah yang cukup besar dengan banyak tumpukan kayu di sebelahnya, lalu dia kembali tersenyum dan melihat ku, “Sekarang kamu yang kenalan rish haha.”. “Aku? Namaku Parrish, anak dari Pak Roma. Nge-kos di Bandung” Aku mengikuti jawaban dari Sava yang ternyata dia malah bingung. “Bandung dimana rish? Baru denger aku”. ‘oiya.. kalo di pikir-pikir kan ini pedesaan tahun 10SM, dia mana tau Bandung dimana’. Langsung saja ku jawab “Bandung itu dari tempat asal ku sav. Btw dari pada ngomongin asal mana, aku boleh ketemu bokap kamu ngga?”. “Bokap itu apaan lagi parrish..?”. Aku pun langsung menepuk jidat ku sendiri “oiya kamu gatau ya, bokap itu Ayah kalo di tempat asal ku. Jadi, aku boleh ketemu ayah kamu ngga sav?”. “ohh.. bisa kok. Sini aku anter ke ayahku. Kebetulan dia lagi berburu Treeshew di hutan”, dia menarik tangan ku dan kami pun berjalan berdua melewati jembatan kayu ini menuju hutan.

                Ternyata hutan ini tidak seseram yang terlihat dari pinggir desa, terdapat banyak bunga di hutan ini. Namun dari yang diberi tahu Sava, tidak semua bunga ini bisa dinikmati ke indahannya, ada beberapa bunga yang beracun, bahkan dapat menggigit. Banyak juga burung bernyanyi di hutan ini, kata Sava itu sejenis burung mockingjay. Dan yang ingat aku ingat dari mockingjay hanyalah film The Hunger Games. “Sav.. tadi ayah kamu lagi berburu trisaw? Trisaw itu apa ya?”.  Dia malah ketawa mendengar pertanyaan ku. “treeshew rish, bukan trisaw hahaha..” dia kembali tertawa. “iya itu maksudku.. duh maklumin dong, kan aku anak baru.” Dia tersenyum dan menjelaskan “iyaiya deh.. treeshew itu sejenis tupai disini rish. Cuman kalu kita teliti saat berburu. Kita bisa dapet treeshew yang berukuran besar, dan itu daging nya enak banget rish. Kamu harus coba nanti waktu kita balik ke desa.” “WIh, kalo masalah makanan dengan senang hati kok sav aku mau coba nanti haha”. Kami berdua bersenda gurau dan berjalan-jalan menikmati pemandangan hutan pinggir desa, tapi lama-kelamaan aku merasakan hal aneh. Kami berdua tidak menemukan Pak Tyo, bahkan aku tidak mendengar suara orang berburu dari tadi. Hutan ini benar-benar sepi disini oleh kami berdua, mungkin karna waktu juga sudah sore. Lalu aku akhirnya membuka pertanyaan ke Sava. “Sav, dari tadi kita muter-muter hutan, kok ayah kamu ngga keliatan ya dari tadi?”, dia yang tadi nya terlihat riang, jadi diam dan melihatku. “ngg.. rish. Sebetulnya ayah aku lagi tugas ke desa tetangga, kamungkinan pulang itu 2-3 hari lagi. Maaf ya”. Aku terdiam mendengarnya, rasa kesal dan marah bercampur menjadi satu. “APA!? KENAPA NGGA BILANG DARI SAV.. INI KAN BUANG-BUANG WAKTU DOANG. TAU GITU GUE KELILING DESA LAGI CARI INFORMASI. AH KACAU..!” Aku berteriak ke Sava, entah perasaan apa yang membuat ku melakukan hal itu kepada gadis yang sudah memberitahu ku banyak hal tentang desa dan hutan ini. Aku pun berputar badan dan pergi menuju desa meninggalkan Sava di hutan, ternyata Sava menjadi sedih dan meneteskan air mata. “tapikan.. aku cuma kangen sama kamu rish.. “.



Continue at Chapter 8 --->
Share:

Thursday, 23 November 2017

Where's Woff - Chapter 6

                Setelah itu kepalaku menjadi sangat pusing, sampai tiba-tiba Aira menepuk bahuku. “Ris, lu gapapa kan? Kok jadi pucet gitu?”. Tanpa ingin membuat Aira khawatir, aku bilang kalau tidak apa-apa, “Cuma pusing dikit kok ra, ayo ke ruang tengah raa…” kataku sambil berjalan dengan sok semangat.

                “Lama banget nih yang ngambil makanan, mentang-mentang berduaan” Jhony meledek kami berdua sesampainya diruang tengah. “Yee.. banyak ni jhon, lu mah duduk doang enak” kata Aira membalas ledekannya, Jhony hanya cengar-cengir saja. “Ayo dims, mulai lah bagiin kartunya, Ziva udah ngga sabar main tuh” saut Sasha sambil menyenggol Ziva. “Dih, kok jadi ke gua sha,” mendengar itu kami pun tertawa sambil Dimas mengocok kartunya dan akan membagikannya.

                “Ayo pada merapat dong, buat lingkaran. Kita main nih” Dimas mengajak kami untuk merapat membuat lingkaran kecil, dengan cemilan dan snack berada di tengah kami. Permainan berlangsung sangat menyengangkan, kami semua saling menuduh dan tertawa lepas bersama-sama. Apalagi Jhony yang selalu menjadi incaran aku dan Ervin. Dhimas pun mulai kembali membagikan kartu, lalu berkata “Malam telah tiba, semua warga tidur dengan nyenyak pada malam hari, namun untuk werewolf silakan membuka mata dan tunjuk siapa yg akan di gigit.”. Aku yg berperan sebagai warga biasa tetap menutup mataku, namun tiba-tiba perasaan aneh itu muncul kembali. Aku tiba-tiba membayangkan Aira yang tersenyum dengan manisnya. Awalnya aku fine-fine saja dengan perasaan itu, namun lama-kelamaan senyuman Aira berubah menjadi tatapan kosong, ternyata.. ada lagi yang tersenyum dibelakang Aira. Ku kira itu Jhony karna mukanya yang agak blur, tapi setelah diteliti lagi, itu adalah pria di kaca yang tadi aku liat. Aku pun mencoba fokus ke pria itu untuk melihat muka nya dan tiba-tiba……… ‘plakk’ Jhony menampar mukaku. “Rish bangun oy, malah tidur beneran,” kata Jhony. “Eh, udah pagi lagi ya hehe maaf ngga denger tadi” aku mencoba ngeles sedikit. Lalu Dhimas pun bilang “Pagi telah tiba, dan ditemukan mayat di pinggir sumur yang ternyata itu adalah…. Parrishh” “Yaaa, mati lu rish hahaha” mereka semua sepertinya bahagia sekali kalau aku yang ditemukan mati. Lalu aku menunjukan kartu ku yang ternyata hanyalah civillian saja. “Mumpung gua udah mati, gua ke kamar mandi dulu yak haha” kataku agak kebelet. “iya rish, tiati yak” saut Nisa.

                Setelah selesai, aku cuci muka sebentar sambil memikirkan apa yang terjadi, apa ini ada hubungannya dengan mimpi aneh kemarin. But, it’s just a silly dream, itu kan cuma mimpi atau bunga tidur yang akan hilang setelah kita bangun. Atau jangan-jangan apartemen ini udah ada penghuni ghoib nya. Entahlah.. kalaupun ada penghuni ghoib, seharusnya kita bisa menjadi teman sekamar yang baik. Aku malah jadi pusing memikirkannya. Setelah selesai berimajinasi dengan hal-hal aneh yang aku alami, akupun kembali ke ruang tengah untuk ikut berkumpul. Tiba-tiba…. Gedung apartemen ku bergoyang. Aku langsung berlari ke ruang tengah sambil berteriak “Gempa woyy, gempaa kaborr” namun yang terjadi adalah tubuh ku yang terasa sangat lemah, berjalan saja rasanya berat dan tidak ada suara yang bisa keluar dari mulut ini. ‘kenapa nih, kok gua gabisa bersuara. Malah lemes banget nih kaki. Duh.. pusing, pusingg banget’ Kepala ku ikut berputar-putar, namun tidak seirama dengan goncangan gedung ini. Karna tidak kuat lagi, aku pun terjatuh dan terlelap(mungkin pingsan kali ya).

                ‘hmm.. aroma enak apa ini’ Akupun terbangun karena mencium aroma yang sangat harum. Seperti aroma roti dengan daging ayam dan daun bawang yang dibakar dengan sempurna dan di taburi dengan biji wijen. ‘ughh.. laper:(‘. aku kira sekarang sudah ada dirumah sakit karna gempa yang sebelumnya, namun ternyata, aku ada di gubuk!. Ya!! ini gubuk yang sama dengan mimpi ku. Terlihat dari kasur yang hanya terbuat dari bulu jerami dan ditutupi kain seadanya, lalu tembok yang terbuat dari kayu oak tua sepertinya, dan tidak lupa perapian yang… tunggu sebentar, Perapian itu masih mengeluarkan asap seperti habis dinyalakan tadi malam. Itu artinya ada orang yang habis dari rumah ini, atau ada orang yang juga terbangun dirumah ini sama seperti ku. Tanpa berfikir panjang, aku pun langsung . . . . . .




Continue at Chapter 7 ---> Click Me!
Share:

Friday, 21 July 2017

Where's Woff - Chapter 5

Pukul 19.00 dan belom ada yang datang, baru aku ingin duduk di sofa, tiba-tiba suara bel berbunyi ‘ting tong… ting tong…’ Wah udah ada yang datang nih, langsung saja aku putar badan dan membukakan pintu. Dan ternyata yang datang duluan adalah Jhony, Dimas, dan Nisa. “Aloo rish” sapa mereka bertiga.
“Hai hai, ayo masuk sini” kataku mengajak mereka masuk. “Nih rish gua bawa minuman, Nisa juga bawa cemilan kayanya,” kata Dimas, “Woiya dong, kan gua udah janji tadi mau bawa,” saut Nisa. “heheh makasih dims, nis. Lah elu bawa apa jhon?” kataku. “gua bawa semangat kerkel rish:)” Katanya sambil senyum kuda. “Siap jhon, makasih semangatnya,” kataku. Saat ku ingin menutup pintu, tiba-tiba Ziva datang dengan sedikit berlari “ehh… Jangan ditutup dulu..” “Iya Ziv ini ngga ditutup kok, lu juga ngapain lari-lari gitu sih”kataku kebingungan. “gua takut rish,”katanya murung “ehh takut kenapa? Ada om-om jahat?” kataku panik, “takut telat rish, kok jadi om-om sih haha,” “elu kali rish om-omnya haha,” saut Jhony dari dalam. “Bangke lu Jhon, masih 17 taun gini” balasku “yaudah Ziv masuk aja, udah ada Nisa, Dimas, Jhony kok didalem,”kataku lagi. “Ohh oke rish, gua masuk yaa” lalu Ziva masuk kedalam gabung dengan yang lain. Aku pun ikut bergabung dengan yang lain, daripada membuang waktu, kami memilih membahas sedikit dari tugas kelompok ini.
Selang 15 menit bel berbunyi lagi, “Wah dateng lagi tuh, gua buka pintu dulu ya,” kataku lalu bangun dan pergi membuka pintu. Ternyata Aira dan Sasha yang sampai “haii Parrish, maaf ya kita telat, Aira tuh dandan nya lama” kata Sasha. “eh kok gue, kan elu yang tadi mandinya lama”balas Aira kesal, “Iyaudah gausah ributtt, ga telat telat banget kok, masuk aja kita juga baru mulai itu”kataku melerai mereka sebelum ada perang dingin, “Parrish kalo ada Aira pasti baik deh hehehe, gue masuk yaa” kata Sasha sambil berjalan masuk. Aku dan Aira cuman diam di depan pintu, “hmm ayo deh ra kita masuk juga” kataku. “Oke rishh, maafin Sasha ya yang tadi, dia emang suka gitu hehe” katanya. “Iya gapapa kok ‘gapapa banget malahan ra’ hehehe” kataku, lalu kami pun masuk berdua dan langsung bergabung dengan yang lain. Tak lama bel bunyi lagi, kali ini pasti si Ervin. Kalo yang ini aku tidak perlu membukakan pintu, Cukup teriak dari ruang tengah “WOEE VIN, MASUK AJA GA DIKUNCI”. “WOKE RISH INI UDAH MASUK” balas si Ervin sedikit berteriak juga. “halo guys, udah lamakah?” sapa Ervin ke kami semua dengan nada tak bersalah, “baru dateng kok vin, baru setengah jam lah,” saut Dimas. “yahh.. maaf dong hehe, gua tadi nyari ini dulu nih biar ada hiburan ditengah kerkel” kata Ervin sambil mengeluarkan se-pack kartu Werewolf “Buat nanti kalo udah bete, kita bisa main ini dulu yee kan” “Wahh boleh juga ide lu Vin, setuju guee”kata Nisa, “Asekk berarti nanti ada jam istirahatnya ya Ziv?” kata Jhony.
“Kok tanya ke gua Jhon?”kata Ziva bingung, “Lahh bukannya kita udah sepakat kalo Ziva ketua kelompoknya?” “Setujuu…” saut kami ramai-ramai. “Duh kalian emang paling bisa yaa” kata Ziva sambil geleng-geleng, “Yaudah kalo gitu ayo kerkel dulu..” kata Ziva semangat, “Siap Ketua!” kata kami tak kalah semangat.
Setelah satu jam mengerjakan tugas kelompok, kami pun mulai bosan. “Vin mana kartu lu tadi, main itu dulu yuk, pusing kepala gua ngerjain tugas mulu” kata Dimas sambil senderan di Sofa. “iya nih.. udah sejam baru jadi segini, istirahat dulu aja” kata Sasha setuju dengan pernyataan Dimas. “Yaudah gua ambil cemilan tambahan dulu ya gaes buat sambil main WW nanti” kataku, lalu ke dapur. “Sini gua bantuin rish” kata Aira ikut ke dapur kecil di kosan ku. “Ini ra, lu bawa yang enteng aja hehe” aku memberinya kantungan berisi chiki. “Sip.. sini rish gua bawa” Aira mengambil plastic yang ku kasih. Saat di jalan mau ke ruang tengah, kami berdua melewati cermin tempat biasa ku dandanin rambut. Saat lewat situ aku melihat kejanggalan, Aira ada dibelakang ku, tapi ada orang lagi di belakang Aira, setelah ku teliti ternyata orang itu memilik taring dan tersenyum ke kami berdua. Tiba-tiba Aira menepuk pundak ku “Rish.. kok diem?”, seketika orang itu juga ikut menghilang. “eh.. anu.. gapapa ra, cuman mau ngaca aja tadi sebentar hehe” kataku, walaupun Aira pasti melihat kalau muka ku agak pucat dari sebelum nya.


Continue at Chapter 6 --> Click Me!
Share:

Wednesday, 19 April 2017

Where's Woff - Chapter 3

Akhirnya setelah perut kami terisi kembali, aku dan jhony berjalan menuju kampus yang jaraknya memang hanya beberapa meter saja dari warteg budeh ini. "Jhon.. kata lu dosen masuk ngga hari ini?" kataku, "engga kayanya rish, dia kan dosen gabut. minggu lalu aja gamasuk kan hehe". Jhony dan aku mungkin bukan mahasiswa terbaik di Universitas Langit Biru. tapi sepintar dan serajin apapun murid di dunia ini mana ada yang tidak senang jika mempunyai guru/dosen yang jarang masuk. Sampai di kampus kami masih harus menaiki tangga berputar yang disitu banyak mahasiswa lain yang suka nongkrong sekedar untuk mencari wifi. kelas kami sendiri ada dilantai 2, jadinya tidak terlalu capek kalau menaiki tangga. sampai lantai 2 hanya perlu belok kiri dan sampai lah di kelas kami yang tercinta.

Kami lihat ke dalam kelas, ternyata masih banyak yang rumpi-rumpi dan bermain game. "tuh kan rish, kayanya Pak Dirman ngga masuk hari ini" "iya jhon, bener juga kata lu. cabut lagi nih kita?" kataku mengajak nya untuk nongkrong saja di cafe depan kampus. tiba-tiba temanku memanggil dari dalam kelas "Woi rish, jhon, sini masuk lu. katanya pak Dirman telat hari ini. jangan ada pikiran cabut lu berdua, doi mau ngasih tugas katanya". aku dan jhony bertatap muka "yah jhon, mau ngga mau masuk dulu kita" "iya rish, ayok dah ikut rumpi sama bocah". saat masuk ke kelas aku melihat Aira sedang asik ngobrol sama temen nya.sepertinya dia tau sedang diperhatikan lalu tiba-tiba dia melihat ku dan tersenyum. "duh.. diliatin balik gua. salting kan jadinya"aku hanya berjalan mengikuti jhony dan tak mencoba untuk tidak melihatnya.

Selang 10 menitan pak Dirman benar-benar datang dengan kemeja coklat langganannya dan celana bahan putih yang sangat tidak kontras dengan kemejanya itu, tak lupa kacamatanya yang dia pakai seperti ingin menyembunyikan kantong matanya yang besar. "Ya anak-anakku yang bapak cintai.." pak Dirman memang terkenal dengan sifat yang humoris, jadi kami senang-senang saja jika dia masuk ataupun tidak masuk. "Bapak hari ini tidak bisa lama-lama mengajarkan kalian, ett.. jangan seneng dulu dong. bapak mau memberikan kalian tugas kelompok. satu kelompok berisi 8 orang dan sudah tempel di mading kelas, silahkan kalian lihat nanti." "ahh.. tugas kelompok. semoga ngga sekelompok sama sekumpulan orang mager aamiin"kataku dalam hati "dan kalau bisa sekelompok sama doii aamiin..."sambungan dari doaku yang tadi. Pak Dirman kembali menjelaskan apa yang menjadi tugas kami "Jadi nak, tugas kalian ini sudah pasti bukan tugas yang easy, so ini udah pasti tugas hard. tugas kalian adalah membuat video tentang masalah sosial di berbagai bidang, topiknya bisa kalian lihat di daftar kelompok tadi ya!". "Baik pak" jawab kami serentak. lalu pak Dirman pun ternyata terburu-buru jadi dia berpamitan dan pergi meninggalkan kami.

"rish, mau liat daftar kelompok ngga?" jhony mengajak ku untuk ke mading. "engga ah jon, elu aja sekalian liatin nama gua ya ada dikelompok mana"kataku dengan kepala yang sudah tertunduk ke meja. "dih kurang tidur lu ya, yaudah bentar ya", "yoi" kataku sambil mengacungkan jempol. Tiba-tiba jhony datang dengan sangat cepat dan memukul kepala ku "RISHH... BANGUN RISH". "woi apaan, gausah mukul juga kuda, gua masih bangun ini"kataku sedikit kesal. "rish lu pasti seneng banget rish, lu sekelompok sama ........" jhony tampaknya ingin membuatku penasaran. "sama Dimas?" "Bukan" "Sama Ziva?" "hmm.. iya sih, tapi bukan yang itu rish" kata jhony. Ugh.. ada ziva saja aku sudah senang, karena dia memang salah satu anak rajin dikelas kami "trus siapa dong jhon?" aku kebingungan. "lu sekelompok sama gue rish uhhhh.. seneng kan lu"kata jhony dengan muka jijik nya. "Anjir kaga ada seneng-senengnya gua tugas kaya gini sekelompok sama lu". "ah jahat lu rish hehe, tapi lu sekelompok sama Aira juga rish seneng ngga tuh?" "Nah kalau itu mah semangat guaaa" kataku dengan mata yang terbakar api semangat. lalu jhony pun memberi tahuku info kalau nanti jam 3 sore kelompok kita mau ngumpul buat bahas pembagian tugasnya dan menentukan tempatnya dimana. Okelah kalau kaya gitu sekarang lebih baik aku ke kantin mengisi perut dan karna ada snapgram bahagia yang harus ku buat IG.



Continue at Chapter 4 ---> Click Me!
Share: